<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Melampaui Pemilu</title>
	<atom:link href="http://melampauipemilu.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://melampauipemilu.com</link>
	<description>Pemilu dan Upaya Demokrasi Kita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Dec 2009 08:01:58 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on MATA KULIAH KAHARINGAN by aasudirman</title>
		<link>http://melampauipemilu.com/mata-kuliah-kaharingan/#comment-31</link>
		<dc:creator>aasudirman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 08:01:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://melampauipemilu.com/?p=390#comment-31</guid>
		<description>Salam,
Tulisan bung madjid ternyata mengundang komentar beragam. Di millist Aliansi kebebasan ada banyak komentar segar. Saya ambil komentar di millist itu untuk disajikan di situs ini. Nama dan alamat  email pemberi komentar tidak saya cantumkan dengan lengkap.  Untuk menjaga privasi penulis komentar di millis aliansi. Senang jika para penulis komentar di milist aliansi bisa menuliskan komentar lainnya langsung di situs melampuaipemilu.com.agar pertukaran pandangan mengenai pendidikan yang satu ini bisa lebih beragam.

From: Budi Andra 
Subject: Re: [akkbb] Pendidikan Agama di sekolah kita
kenapa tidak perlu ?
karena sangat sulit mengaplikasikan pelajaran agama / kepercayaan/ aliran tanpa tendensi tertentu..sehinga sulit objektif.
apalagi di sekolah publik dimana paham tertentu yg berkuasa..pengalama n sulit menghindari campur tangan kekuasaan ke ranah agama sejak sekolah dasar
Kalaupun mau membahas tentang realitas sejarah dan keberadaan agama-agama tanpa jauh ke soal aqidah mungkin bisa dengan menarik garis benang merah ajarannya saja, karena itu tdk perlu pelajaran agama khusus dgn waktu tertentu..
mungkin lebih baik bicara soal tujuan agama agama/aliran/ kepercayaan/ spiritual dibanding soal dogma2, ritual2 agar ada titik temu..
Sehingga membicarakan agama/aliran/ kepercayaan/ spiritual menjadi bicara soal isi, tujuan dan aplikasi dalam kehidupan sosial masyarakat dibanding soal atribut, dogma, dan ego

 thowik 
pelajaran agama di sekolah publik (milik negara) sangat, sangat, sangat, dan sangat tidak perlu!!!
 
kecuali sekolah-sekolah  milik katolik, kristen, hindu, budha, ahmadiyah, muhammadi yah, NU... itu pun membutuhkan pendampingan dari kawan-kawan yang peduli dengan prinsip penegakan hak dan kebebasan beragama dan berkeyakinan agar nilai-nilai agama yang disampaikan ke anak-anak tidak ekslusif atau ofensif/agresif terhadap yang lain. sebab, di sekolah seperti itulah dari awal anak-anak sengaja dikader untuk menjadi juru dakwah.
 
pasti negeri ini indah kalau yang jadi juru dakwah di ahmadiyah orang-orang seperti mubarik; di kristen orang-orang seperti trisno; dll. 
 jadi, yang perlu diajarkan di sekolah negeri adalah civic values. di dalam mata pelajaran civic values (nilai-nilai toleransi, kesetaraan, dll.) itu bolehlah diperkenalkan semangat-semangat humanis dari berbagai macam agama dan keyakinan seperti adam maksudkan.


 Adam
  Perlu! 

Bukan mata pelajaran agama tertentu, tapi pelajaran tentang agama yang membahas semua agama sebagai subjek kajian keilmuan. Isinya bisa agama apa saja yang ada di dunia, aliran-aliran, mazhab-mazhabnya, sejarah perkembangannya, termasuk agama setempat/adat. Yang Kristen jadi tahu Kaharingan, yang Kejawen mengerti Shinto.
Tentu kalau mau adil, keyakinan dan life stance yang lain juga dibahas, seperti &quot;Animisme&quot;, &quot;Deisme&quot;, &quot;Atheisme&quot;, &quot;Agnostisisme&quot; , dst.Seharusnya seorang anak sekolah mempunyai wawasan luas dan menyadari kemajemukan keyakinan orang di dunia. Sehingga, kalau sudah dewasa akhirnya menjadi pembela kebebasan beragama/berkeyakin an, deh..  
Boleh juga mata pelajaran &quot;moralitas&quot;, tapi  dijelaskan bahwa &quot;moralitas&quot; atau &quot;ethics&quot; dengan segala pengertian dan tingkatannya memiliki beragam sumber, salah satunya dari agama, yang lain dari filsafat, atau watak nurani kemanusiaan, dan lain-lain. Jangan mentang-mentang tidak beragama berarti tidak bermoral.
 Husni 
Pelajaran yg saya tangkap dari Baidowi, pengasuh rubrik pendidikan di Media Indonesia, bahwa pendidikan terdiri dari to learn, to love and to be. Pada titik ini, mengenalkan agama di lembaga pendidikan penting. Pengetahuan tentang agama kemudian dihayati dan dicintai lalu ajaran moral di dalamnya menjadi bagian dari hidupnya.
 Yang perlu disoalkan adalah isi yang dikenalkan ke siswa sepeerti apa. Jika kebencian terhadap minoritas seperti agama kaharingan atau, contoh lain, Ahmadiyah, amat bahaya. Kebencian itu segera menjadi pengetahuan yg dicintai lalu merusak jika berhadapan dengan kosa kata minoritas.
Untuk membunuh hama tikus tidak perlu memrusak ladang, kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,<br />
Tulisan bung madjid ternyata mengundang komentar beragam. Di millist Aliansi kebebasan ada banyak komentar segar. Saya ambil komentar di millist itu untuk disajikan di situs ini. Nama dan alamat  email pemberi komentar tidak saya cantumkan dengan lengkap.  Untuk menjaga privasi penulis komentar di millis aliansi. Senang jika para penulis komentar di milist aliansi bisa menuliskan komentar lainnya langsung di situs melampuaipemilu.com.agar pertukaran pandangan mengenai pendidikan yang satu ini bisa lebih beragam.</p>
<p>From: Budi Andra<br />
Subject: Re: [akkbb] Pendidikan Agama di sekolah kita<br />
kenapa tidak perlu ?<br />
karena sangat sulit mengaplikasikan pelajaran agama / kepercayaan/ aliran tanpa tendensi tertentu..sehinga sulit objektif.<br />
apalagi di sekolah publik dimana paham tertentu yg berkuasa..pengalama n sulit menghindari campur tangan kekuasaan ke ranah agama sejak sekolah dasar<br />
Kalaupun mau membahas tentang realitas sejarah dan keberadaan agama-agama tanpa jauh ke soal aqidah mungkin bisa dengan menarik garis benang merah ajarannya saja, karena itu tdk perlu pelajaran agama khusus dgn waktu tertentu..<br />
mungkin lebih baik bicara soal tujuan agama agama/aliran/ kepercayaan/ spiritual dibanding soal dogma2, ritual2 agar ada titik temu..<br />
Sehingga membicarakan agama/aliran/ kepercayaan/ spiritual menjadi bicara soal isi, tujuan dan aplikasi dalam kehidupan sosial masyarakat dibanding soal atribut, dogma, dan ego</p>
<p> thowik<br />
pelajaran agama di sekolah publik (milik negara) sangat, sangat, sangat, dan sangat tidak perlu!!!</p>
<p>kecuali sekolah-sekolah  milik katolik, kristen, hindu, budha, ahmadiyah, muhammadi yah, NU... itu pun membutuhkan pendampingan dari kawan-kawan yang peduli dengan prinsip penegakan hak dan kebebasan beragama dan berkeyakinan agar nilai-nilai agama yang disampaikan ke anak-anak tidak ekslusif atau ofensif/agresif terhadap yang lain. sebab, di sekolah seperti itulah dari awal anak-anak sengaja dikader untuk menjadi juru dakwah.</p>
<p>pasti negeri ini indah kalau yang jadi juru dakwah di ahmadiyah orang-orang seperti mubarik; di kristen orang-orang seperti trisno; dll.<br />
 jadi, yang perlu diajarkan di sekolah negeri adalah civic values. di dalam mata pelajaran civic values (nilai-nilai toleransi, kesetaraan, dll.) itu bolehlah diperkenalkan semangat-semangat humanis dari berbagai macam agama dan keyakinan seperti adam maksudkan.</p>
<p> Adam<br />
  Perlu! </p>
<p>Bukan mata pelajaran agama tertentu, tapi pelajaran tentang agama yang membahas semua agama sebagai subjek kajian keilmuan. Isinya bisa agama apa saja yang ada di dunia, aliran-aliran, mazhab-mazhabnya, sejarah perkembangannya, termasuk agama setempat/adat. Yang Kristen jadi tahu Kaharingan, yang Kejawen mengerti Shinto.<br />
Tentu kalau mau adil, keyakinan dan life stance yang lain juga dibahas, seperti "Animisme", "Deisme", "Atheisme", "Agnostisisme" , dst.Seharusnya seorang anak sekolah mempunyai wawasan luas dan menyadari kemajemukan keyakinan orang di dunia. Sehingga, kalau sudah dewasa akhirnya menjadi pembela kebebasan beragama/berkeyakin an, deh..<br />
Boleh juga mata pelajaran "moralitas", tapi  dijelaskan bahwa "moralitas" atau "ethics" dengan segala pengertian dan tingkatannya memiliki beragam sumber, salah satunya dari agama, yang lain dari filsafat, atau watak nurani kemanusiaan, dan lain-lain. Jangan mentang-mentang tidak beragama berarti tidak bermoral.<br />
 Husni<br />
Pelajaran yg saya tangkap dari Baidowi, pengasuh rubrik pendidikan di Media Indonesia, bahwa pendidikan terdiri dari to learn, to love and to be. Pada titik ini, mengenalkan agama di lembaga pendidikan penting. Pengetahuan tentang agama kemudian dihayati dan dicintai lalu ajaran moral di dalamnya menjadi bagian dari hidupnya.<br />
 Yang perlu disoalkan adalah isi yang dikenalkan ke siswa sepeerti apa. Jika kebencian terhadap minoritas seperti agama kaharingan atau, contoh lain, Ahmadiyah, amat bahaya. Kebencian itu segera menjadi pengetahuan yg dicintai lalu merusak jika berhadapan dengan kosa kata minoritas.<br />
Untuk membunuh hama tikus tidak perlu memrusak ladang, kan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MATA KULIAH KAHARINGAN by kartika pramahesti</title>
		<link>http://melampauipemilu.com/mata-kuliah-kaharingan/#comment-30</link>
		<dc:creator>kartika pramahesti</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 04:04:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://melampauipemilu.com/?p=390#comment-30</guid>
		<description>salam,
tulisan ini tidak jauh beda dengan pengalaman yang saya pernaha alami sebagai sunda wiwitan,saya pun heran mengapa hal hal demikian masih saja terjadi di negara yang katanya berdasarkan Pancasila dan KeBhinnekaan .
Jujur saja saya mengalami kesakit hatian akibat diperlakukan tidak adil,saya mengalami hal yang serupa saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas di daerah Bandung,Jawa Barat .
Hal yang menariknya justru dengan adanya kejadian ini saya jadi lebih &quot;dikenal berbeda&quot; dengan yang lain di sekolah di antara para guru dan staff pengajar lainnya , tapi hal ini tidak menjadikan halangan bagi saya untuk berteman ataupun memperluas pengalaman .
Namun apakah hal ini akan teteap dibiarkan sehingga akan terjadi badri badri berikutnya ?
salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam,<br />
tulisan ini tidak jauh beda dengan pengalaman yang saya pernaha alami sebagai sunda wiwitan,saya pun heran mengapa hal hal demikian masih saja terjadi di negara yang katanya berdasarkan Pancasila dan KeBhinnekaan .<br />
Jujur saja saya mengalami kesakit hatian akibat diperlakukan tidak adil,saya mengalami hal yang serupa saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas di daerah Bandung,Jawa Barat .<br />
Hal yang menariknya justru dengan adanya kejadian ini saya jadi lebih "dikenal berbeda" dengan yang lain di sekolah di antara para guru dan staff pengajar lainnya , tapi hal ini tidak menjadikan halangan bagi saya untuk berteman ataupun memperluas pengalaman .<br />
Namun apakah hal ini akan teteap dibiarkan sehingga akan terjadi badri badri berikutnya ?<br />
salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MATA KULIAH KAHARINGAN by asep.setiapujanegara</title>
		<link>http://melampauipemilu.com/mata-kuliah-kaharingan/#comment-29</link>
		<dc:creator>asep.setiapujanegara</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 03:47:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://melampauipemilu.com/?p=390#comment-29</guid>
		<description>saya ikut prihatin dengan kondisi yang dialami saudaraku badri, tapi saya berharap saudaraku janganlah merasa &quot;sendiri&quot;, karena saudaramu di tatar parahyangan masih ada yang senasib dengan anda.begitulah kenyataannya wajah negara yang konon berdasarkan atas ketuhanan dan berlandaskan pancasila yang hidup berbhineka, tetapi lagi-lagi kehidupan kebebasan berkeyakinan kita dipasung dan dipaksa dengan aturan-aturan yang sangat tidak mencerminkan ketuhanan.
 pantaskah kita menyatakan &quot;ini sesat dan tidak&quot;, menurut pendapat saya seharusnya negara tidak gegabah dalam menyikapi dan membuat kebijakan dalam tataran keyakinan, karena urusan ini menjadi hak yang paling asasi bagi setiap individu. seharusnya negara cukup memfasilitasi kebutuhan mereka,tak perlu ikut campur lebih dalam urusan keyakinannya masing-masing.sekalipun ada yang harus diatur adalah membuat suatu kebijakan untuk menghindari terjadinya tindakan-tindakan yang mengarah kepada tindakan kriminal (membunuh,menghancurkan,penghinaan dll).
pada kesempatan ini pula saya berharap kepada semua pihak yang merasa diperlakukan tidak adil / terdiskriminasi dalam urusan keyakinan marilah kita bersama-sama merapatkan barisan untuk terus kita perjuangkan secara bersama-sama yang tentunya sesuai dengan aturan-aturan negara yang berdasarkan UUD45 dan PANCASILA tentunya.
 karena segala cita-cita akan terwujud jikalau dilaksanakan dengan sungguh2, seperti pepatah mengatakan &quot;TIDAK AKAN ADA KENYATAAN YANG MELEBIHI PERBUATAN&quot;..............Rahayu !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya ikut prihatin dengan kondisi yang dialami saudaraku badri, tapi saya berharap saudaraku janganlah merasa "sendiri", karena saudaramu di tatar parahyangan masih ada yang senasib dengan anda.begitulah kenyataannya wajah negara yang konon berdasarkan atas ketuhanan dan berlandaskan pancasila yang hidup berbhineka, tetapi lagi-lagi kehidupan kebebasan berkeyakinan kita dipasung dan dipaksa dengan aturan-aturan yang sangat tidak mencerminkan ketuhanan.<br />
 pantaskah kita menyatakan "ini sesat dan tidak", menurut pendapat saya seharusnya negara tidak gegabah dalam menyikapi dan membuat kebijakan dalam tataran keyakinan, karena urusan ini menjadi hak yang paling asasi bagi setiap individu. seharusnya negara cukup memfasilitasi kebutuhan mereka,tak perlu ikut campur lebih dalam urusan keyakinannya masing-masing.sekalipun ada yang harus diatur adalah membuat suatu kebijakan untuk menghindari terjadinya tindakan-tindakan yang mengarah kepada tindakan kriminal (membunuh,menghancurkan,penghinaan dll).<br />
pada kesempatan ini pula saya berharap kepada semua pihak yang merasa diperlakukan tidak adil / terdiskriminasi dalam urusan keyakinan marilah kita bersama-sama merapatkan barisan untuk terus kita perjuangkan secara bersama-sama yang tentunya sesuai dengan aturan-aturan negara yang berdasarkan UUD45 dan PANCASILA tentunya.<br />
 karena segala cita-cita akan terwujud jikalau dilaksanakan dengan sungguh2, seperti pepatah mengatakan "TIDAK AKAN ADA KENYATAAN YANG MELEBIHI PERBUATAN"..............Rahayu !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on MATA KULIAH KAHARINGAN by aa sudirman</title>
		<link>http://melampauipemilu.com/mata-kuliah-kaharingan/#comment-28</link>
		<dc:creator>aa sudirman</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 09:38:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://melampauipemilu.com/?p=390#comment-28</guid>
		<description>salam,
tulisan bung madjid ini menarik untuk disimak. ternyata, di negeri yang sering mengagungkan Kebhinekaan, persoalan keyakinan masih menjadi persoalan yang ruwet. Kasus yang dialami Badri pasti bukan kasus tunggal. masih banyak kasus sejenis di berbagai tempat di Indonesia. Elok rasanya jika teman-teman pembaca dan pengunjung situs ini mau berbagi jika menemukan kasus serupa. Setidaknya agar lebih banyak informasi yang muncul mengenai perilaku diskriminatif yang menempi warga bangsa. Dari situ, peluang penyelesaian dan pemenuhan hak hak pendidikan mereka yang selama ini terpinggirkan bisa diselesaikan. salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam,<br />
tulisan bung madjid ini menarik untuk disimak. ternyata, di negeri yang sering mengagungkan Kebhinekaan, persoalan keyakinan masih menjadi persoalan yang ruwet. Kasus yang dialami Badri pasti bukan kasus tunggal. masih banyak kasus sejenis di berbagai tempat di Indonesia. Elok rasanya jika teman-teman pembaca dan pengunjung situs ini mau berbagi jika menemukan kasus serupa. Setidaknya agar lebih banyak informasi yang muncul mengenai perilaku diskriminatif yang menempi warga bangsa. Dari situ, peluang penyelesaian dan pemenuhan hak hak pendidikan mereka yang selama ini terpinggirkan bisa diselesaikan. salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on KABALISTIK VS HUMANISME UNIVERSAL by Idon</title>
		<link>http://melampauipemilu.com/kabalistik-vs-humanisme-universal/#comment-16</link>
		<dc:creator>Idon</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 11:41:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://melampauipemilu.com/?p=180#comment-16</guid>
		<description>Bagi saya yang ditulis bung Christ bukan hal yang baru, Tapi soalnya menjadi penting menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Coba perhatikan bagaimana para calon presiden itu merayu saudara kita yang beretnis Tionghoa. Kapan Demos mau menerbitkan secara utuh artikel itu ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saya yang ditulis bung Christ bukan hal yang baru, Tapi soalnya menjadi penting menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Coba perhatikan bagaimana para calon presiden itu merayu saudara kita yang beretnis Tionghoa. Kapan Demos mau menerbitkan secara utuh artikel itu ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
