Pemilu dan Upaya Demokrasi Kita

BPD; Lentera Demokrasi Lokal

Blok Politik Demokratik kembali digelar di daerah Jawa Timur. Sebanyak 8 (delapan) Kabupaten/ Kota yang diwakili oleh tokoh-tokoh gerakan masyarakat sipil berinisiasi melakukan training TOT Blok Politik Demokratik. Mereka cukup heterogen, berasal dari berbagai latar isu yang berbeda dan kontruksi politik lokal yang beragam di daerahnya masing-masing.

Namun, keberagaman ini bukan menjadi penghalang untuk membangun komunikasi dalam ruang publik diskursif. Melainkan, menjadi motor kekuatan yang masif bagi perjuangan-perjuangan yang mereka lakukan. Tokoh-tokoh yang berbeda keseharian konsentrasi isu-nya, seperti Aan Anshori dari Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LInK), Diana Achmad yang fokus di isu anti kekerasan pada perempuan, bahkan hingga Jamal yang menggeluti isu perburuhan. Mereka semuanya bisa menjalankan sebuah operasi sosial yang merefleksikan sejenak kisah pergerakan masyarakat di daerah setempat.

Keberagaman dan perbedaan itu tidak menjadi kelemahan bagi efektivitas gerakan sosial. Sama halnya dengan gagasan Ernesto Laclau dalam On Populist Reason (2005). Dalam gagasan Laclau, subjek dihadirkan kembali dalam percaturan kehidupan. Subjek terdiri dari varian segmentasi politik yang beragam. Diferensiasi sosial yang biasa disebut antagonisme kelas antara Kapital dan Ploretariat dari optik Marxian ortodoks telah runtuh. Subjek yang mengejawantahkan agen perubahan itu terdiri dari NGO, Mahasiswa, Buruh, dst.

Keberagaman itu hendaknya didukung dengan upaya yang serius untuk mempertemukan semua gerakan sosial masyarakat. ”Identitas Kolektif’ dipercaya oleh Laclau bakal mendorong perubahan sosial dari perkumpulan gerakan sosial yang kecil beranjak membesar dan terus membesar di kemudian hari. Gerakan sosial itu secara alamiah akan tumbuh menjadi unitas yang teragregasikan diri pada akhirnya akan mengartikulasikan tuntutan bersama yang mendorong perubahan.

Pengalaman berjejaring mereka telah memberikan catatan yang cukup berharga diranah sosio-politik. Misalnya di Surabaya, gelombang gerakan sosial yang telah mereka lakukan efektif dalam diskursus publik atas keberadaan isu: Perda Traficking, Anti Rokok, hingga gerakan melawan penggusuran.

Hal yang sama juga terjadi di Jombang, berbagai aliansi dan koalisi dibangun cukup efektif dalam isu-isu seputar korupsi, reclaiming tanah pertanian, perda miras-prostitusi, dst. Jombang memiliki tradisi yang cukup unik dalam ber-civil society. Sebab daerah yang relatif kecil, namun banyaknya tokoh besar dan NGO disana menandakan kesadaran berdemokrasi cukup tinggi.

Namun, mungkin mereka juga tersadar, refleksi perlu dilakukan dalam menginterospeksi ketajaman gerakan sosio-politik. Penguatan identitas kolektif dan artikulasi tuntutan bersama perlu renungkan kembali. Blok Politik Demokratik, merupakan sarana yang mempertemukan berbagai agen-agen perubahan sosial tersebut untuk berkomunikasi dan bertukar pengalaman. Dari sanalah kekuatan politik alternatif akan dimanifestasikan secara konkret yang berpegang pada solidaritas gerakan masyarakat sipil dan diskursus mendalam yang filosofis.s3020084


Tagged as:

Comments are closed.