BALIHO
Oleh: Noorhalis M
ajid
Baliho memenuhi penjuru setiap kota. Semua kota menjelang pemilu dan pemilukada (pemilu kepala daerah) berhias baliho. Entah berapa jumlahnya dalam setiap kota tidak ada yang tahu. Pun satuan polisi pamong praja yang kerap melakukan razia juga tidak tahu. Karena tidak semua baliho terpasang menggunakan izin. Baliho dipasang disembarang ruas jalan. Tidak ada aturan jarak, ukuran besaran bahkan jaminan keamanan para pengguna jalan. Batasan baliho hanya kantong para pemesannya, kalau kantongnya tebal maka baliho berjajar di setiap ruas dan sudut jalan.
Baliho menguasai hampir semua perempatan. Perempatan kini miliknya baliho, yang bukan baliho silahkan minggir. Di perempatan, baliho saling tumpang tindih, saling mengalahkan. Yang besar menutup yang kecil dan yang baru meminggirkan yang lama. Baliho sedang menganut hukum rimba. Adakah perempatan yang tidak ada baliho? Tidak ada, karena baliho sudah menjadi primadona dan surganya adalah perempatan jalan. Siapa yang paling besar balihonya maka dialah pemilik perempatan tersebut.
Baliho mengenalkan wajah, menyampaikan pesan, janji, atau mungkin juga kebohongan. Wajah di baliho selalu berseri, senyumnya selalu mengembang dan bahkan sangat lebar. Janji di baliho sungguh manis, menawarkan segudang mimpi, harapan dan bahkan surga. Baliho adalah idealisme populis. Tidak ada yang tidak bagus dalam baliho, semuanya indah.
Baliho adalah wajah atas wajah. Atau mungkin juga topeng atas topeng. Kalau baliho adalah topeng, maka semakin banyak baliho terpasang semakin banyak topeng yang ditampilkan. Kita sedang memandang topeng besar dalam wajah baliho. Topeng yang selalu tersenyum dan terus berjanji. Senyum dan janji itulah topeng. Bila maksud sudah tersampaikan maka baliho akan diturunkan dan saat itu pula janji sudah terlupakan. Janji baliho mengikuti selera pembacanya. Selera ungu dijanjikan ungu, selera jingga dijanjikan jingga dan itulah karakter topeng yang ada dalam baliho.
Baliho telah memperpendek waktu. Waktu 14 tahun dapat diperpendek baliho dengan hanya 14 hari. Waktu kampanye bagi calon perserta pemilukada hanya 14 hari. Kalau tanpa baliho mustahil 14 hari dapat mengenalkan sepotong wajah yang tidak terkenal pada 500 ribu masyarakat. Mungkin perlu waktu 14 tahun untuk itu, tapi baliho mampu melakukan dengan hanya 14 hari. Sediakan 1800 baliho maka 500 ribu masyarakat akan melihatnya. Bila jumlah Rukun Tetangga (RT) 1800 maka pasanglah baliho sejumlah itu kemungkinan semua masyarakat mengenal wajah tersebut. Begitu hebatnya baliho dalam mengenalkan wajah hingga dalam waktu yang cukup pendek orang biasapun menjadi populer.
Rupaya popularitas menjadi syarat wajib dalam politik, karenanya banyak orang yang merasa populer terjun kedunia politik. Popularitas memberi garansi kemenangan dalam pemilu ataupun pemilukada. Setiap orang dalam politik ingin populer dan baliho mempermudah upaya untuk populer.
Baliho juga menjadi medan perang antar sesamanya. Perang kampanye, perang gagasan, perang klaim kebenaran atau perang paling segalanya. Baliho telah menjadi trend, mode dan bahkan memberi pengaruh pada gaya hidup. Sedikit yang diungkapkan baliho tapi memberi kesan sangat dalam. Orang bijak mengatakan ‘gambar memberi kesan ribuan makna’, itulah yang ditangkap dan dijanjikan baliho. Orang mengkhususkan diri belajar komunikasi gaya baliho agar lebih banyak kesan positif yang disajikan, dan tarif untuk ahli semacam ini cukup mahal.
Baliho menyita banyak ruang publik. Tidak memberi alternatif pada yang tidak menyukai. Kalau ada yang tidak suka pada baliho atau tidak ingin terprovokasi propaganda baliho, maka tidak ada cara selain menghindari baliho itu. Kalau semua ruas jalan telah dikuasai baliho maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menyerah pada kehendak baliho, setidaknya pasrah untuk turut terbaca dan melihatnya.
Baliho terkadang arogan. Misalnya baliho yang jumlahnya sangat banyak lagi besar-besar bukan sekedar upaya mempopulerkan diri atau mengenalkan wajah dan gagasan, bisa menjelma sebagai teror atau pemaksaan kehendak. Tapi adakah peraturan yang dapat melihat ini secara kritis? Bahkan pemasangan baliho diluar masa kampanye saja aturannya tidak ada. Baliho sangat lihai merubah diri, dimasa kampanye dia menyebut dirinya sebagai media kampanye, diluar itu dianggap media sosialisasi, suatu waktu mengaku media iklan atau reklame, rupanya baliho memiliki banyak nama. Baliho telah mengambil manfaat lebih dari semestinya dan terkadang tidak bertanggungjawab atas dampak yang ditimbulkan. Kota telah dikepung baliho, semua orang dipaksa memperhatikannya, yang tidak suka tentu menganggap ini sebuah kejahatan?
Dampak baliho yang paling dahsyat adalah menyuburkan jalan pintas populis para politisi. Tidak perlu lagi membangun konstituen, menggalang massa atau menghimpun kekuatan basis, cukup memasang baleho maka popularitas secepat kilat terbangun. Dosa atas jalan pintas populis inilah yag merubah demokrasi berwajah pragmatisme. Sungguh perubahan yang sangat besar dan memberi pengaruh bagi partai politik dan politisi dalam berhubungan dengan konstituennya.
Dengan baliho maka semua massa menjadi mengambang dan komunitas basis solid sekalipun tidak memiliki pertahanannya lagi. Baliho telah merusak pendekatan demokrasi yang menganjurkan orang untuk berhubungan satu persatu. Membangun komitmen personal antara politisi dan pemilihnya, baliho telah membuyarkan semuanya dan menempatkan semua orang sebagai pemilih mengambang.
Kalau Cicero sang politisi piawai jaman Romawi yang mengajarkan pentingnya membangun hubungan personal dengan para pemilih masih hidup dan melihat baliho, tentu dia akan berpikir ulang tentang strategi memenangkan pemilu. Cicero berlatih ke pantai agar suaranya lantang dan nyaring dalam berkomunikasi dengan rakyat pemilihnya. Sekarang para politisi tidak berlatih ke pantai, tapi menemui fotografer agar balihonya menarik dan fotogenic. Cicero berjibaku dengan kasus-kasus yang dihadapi masyarakat pemilihnya dan berusaha untuk menyelesaikannya agar mendapat simpati, politisi sekarang hanya menghubungi digital printing dan memasang baliho sebanyak uang yang tersedia dan simpati akan terbangun.
Baliho adalah temuan jaman digital, setelah segala yang manual dilewati. Besok tentu akan ada digital baru yang menuding digital hari ini sebagai yang manual. Politik dan demokrasi apakah juga mengalami masa manual dan digital? Apapun jawabannya, baliho telah memberi warna dalam politik, bahkan memberi peran strategis. Politik adalah strategi dan demokrasi adalah pilihan dari strategi itu sendiri. Baliho menawarkan strategi lebih pintas dari strategi apapun yang telah ditawarkan. Akhirnya suburlah jalan pintas populis, dan demokrasi pilarnya nampak semakin rapuh karena soliditas konstituen tidak pernah terbangun.@.
Kelompok Kerja Jaringan Demokrasi (KKJD) Kalimantan Selatan
noorhalis.majid@gmail.com
Gambar diambil dari http://dreamindonesia.wordpress.com/2009/03/13/baliho-senyum/
Entries(RSS)